Kumpulan Contoh Puisi Pendek Terbaru

Diposting pada

Contoh Puisi Pendek Bagian 2

puisi persahabatan pendek, puisi ibu pendek, puisi cinta sedih pendek, puisi pendek cinta, puisi patah hati pendek, puisi bebas pendek, puisi malam hari pendek, contoh puisi bebas pendek, contoh parafrase puisi pendek
Contoh Puisi Pendek Bagian 2

Rindu

Bebatuan menahan teriakku
Terpantul pikuli jengah kekacauan
Aku tetap menantimu
Sesampai laku berkumandang habiskan rantau-rantau kesuraman
Aku masih menetapi segala ratap yang curam
Dengan sunyi yang menghimpit
Untukmu, rindu
Tiada pernah kubergegas meninggalkanmu
Walau selangkah
Tidak, rindu
Jenuh kian tertarik padamu
Dan selalu ingkar kepada bibir cintaku
Aku masih menanti kepulanganmu
Kaulah kekasih tergelap dari jiwaku

Tukang

Tugas terkekang
Tuntutan menyahur hutang
Tuan menyuruh
Bertangguh
Tukang
Tumpuan belakang
Tulang punggung sakit
Bank plecit
Ngoncit
Tukang
Tanpa kernet
Sendiri tangan lecet
Semen panas
Ganas

Cahaya Harapan

Sang fajar begini silau
Menyerap lembab sisa tadi malam
Basahan tanah mulai mengering
Disekian banyaknya guguran daun
Terselip satu diantaranya
Satu yang memberiku duka panjang
Jika takada mendung hujanpun takturun
Bara api yang akan menyala
Takan mudah padam tampa air surga
Meski kabut gunung mengurung
Lebih baik dari pada sisa arang
Yang tak bisa brrguna lagi
Masih ada setetes cahaya harapan
Untuk bersemi benih buah manis
Yang entah kapan bisa dituai
Seiring waktu yang berjalan

Memorandum ibu mertua

Anak perempuan jelita sempurna
Dijaga ibu licik sejuta mahu
Yang datang merapat
Ditapis-tapis bak hampas teh
Disaring malah disuling
Dengan propaganda
Berkepentingan
Belum jadi kahwin
Itu ini sudah dipinta
Sudah kahwin
Punya macam-macam acara
Bulan madu berdua jadi bertiga
Kerana ibu mertua turut serta
Tak ada orang nak jaga
Alasan bonanza belaka
Kacau daun tak kira masa

Racau

Di ombak laut
Hempasan badai
Menina bobokkan cemara
Pucuk daun menari gembira
Berirama burung Tempua
Melayang
Berenang menuju bintang
Bermain
Berirama pelangi malam
Bulan
Bersembunyi dibalik hitam
Dibalik hitam kelam
Berjuta tangan mencengkam
Berbisik merdu merayu
Padaku
Yang sedang meracau

Kehampaan

Hati ingin menampik kesalahan
Namun kebenaran hanya milik pembelaan
Sedang resah telah mengalungi beku
Sudah mengendap luapan tangis
Menuangkan kepedihan yang selalu mendawai
Meronce hari berganti dengan kehampaan

Matamu

Adalah muara segala puisiku
Tenggelam dalam dekapnya
Mengurai ausnya kelu sunyi tak terkataku
Matamu
Adalah puisiku yang memuisikanku
Ays
Andai kau masih disini
Kan kulukis kembali potretmu

Kuota rindu

Di sini
Malam kelam berlumur air hujan
Aku menyapa
Apa kabar mu di sana
Wahai bidadari surga
Tepikan saja rasa risau mu di dada
Bersama malaikat kecil kita
Bila perlu jauhkan saja
Galaumu hingga menembus kutub utara
Tenang serta damaikan
Hatimu duhai belahan jiwa
Di kesunyian dan kedalaman surga cinta kita
Sebab kuota rinduku padamu
Masih tersisa satu tera

Teras Senja

Gumam dera jiwa hampa
Telisik lembaran pada ejaan-ejaan tua
Hasrat ini terjalar mendahaga
Kelaparan berlipat-lipat ganda
Senja bercurah terapit jingga
Candu itu bergolak dengan makna
Kusut ciderai cerita lama
Sesal berkembang menyumpal pembuluh dada

Rindu Di Kulit Senja

Mega merona jingga
Seakan membisik rindu
Kicau burung iringi cakrawala
Meradang jiwa, sendu
Binar mentari nan tenggelam
Rindu menyayat jiwa
Langit sunyi,nan suram
Menanti penglipur lara
Riuh angin lambaikan daun senja
Sampaikan rinduku padanya
Hanya dia yang kudamba
Moga abadi sampai ujung nyawa

Aksara Jaga

Tidur terjaga,terjaga dalam tidur
Dipeluk rembulan di alam membiru
Tangis air mata saksi sebuah ketulusan
Dari harapan yang mengakar binar nurani

Kicauanku

Malam mulai menghampiri
Raguku untuk menggrogoti
Mampu kah diri berlayar sendiri, saat sepi menghantui
Ombak membelai
Badai mencumbui
Jiwa beraga namun membeku
Pada deraian hujan membasahi kalbu
Desiran angin menggontaikan langkahku
Hangatnya mentari menambah bara
Jiwa bercinta dengan lara yang berbalut luka
Ingin ku lari berbagi duka yang menepi
Dirimu tak jua menghampiri

Kabut Senja

Mega kelabu
Menyapa santun rindu
Seburat angan terlintas depanku
Menanyakan kerisauan hatiku
Semakin pekat hitam megaku
Gerimis berdatangan singgahi bumiku
Pijak kaki tak terjejaki langkahku
Rinai hujan memburu sepiku
Asap tebal tutupi jalanku
Setapak jingga temaniku
Berjejak gulana kalbuku
Menyusuri rindu padamu

Puing Kenangan

Dalam risau kami bertanya:
Manakah surau-surau itu ?
Tempat kami mencari ilmu
Manakah tanah lapang itu ?
Tempat gembala dan bola-bola
Kawanan bocah bermain lincah
Ah, hanya bayangan saja
Nyatanya bangunan sekolah tampak rata
tak tersisa, tak teraba

Tanah Basah

Lihatlah kasih langit
Curahan hujan basahi bumi
Tanah basah kembali subur
Dengarlah nyanyian katak bersenandung
Senyum petani menanam benih
Kelakar bocah main hujan-hujanan
Murung sang ibu cucian belum kering

Berguru Pada Alam

Belajar pada angin
Berdaya menyentuh segala
Tanpa tunjukan rupa
Menghalau panas dan luka
Atau hangatnya api
Pada nyala kecil lentera
Bias cahaya terangi semesta
Bahkan kobarannya sebagai penanda
Babak baru siklus manusia
Tanahpun sering menasiahati
Bahwa memberi adalah bakti
Meski harus kikis saripati diri

Aku Bukan Penganggur

Selain segulung rokok
Dari a sampai z
Adalah tar dan nikotin
Tanpanya, aku mayat bisu
Penyampaian jiwa
Menerusi tinta
Hari tanpa menulis
Seperti dunia tanpa kopi
Alkisah makanan tiada garam
Bunga tidak punya haruman lagi
Sekurang-kurangnya
Andai ditanyakan orang
Apa pekerjaanmu ?
Aku jawabkan pada sekalian
Mereka itu
Aku seorang penulis

Pendosa

Dekap mendalam
Degub binal
Desah memecah celah
Dinding berbisik lirih
Peluh mengucur binasa
Terlena sesat
Kelam sesaat
Jangkrik terus mengeong
Tidak ada suara lain membelah kesunyian
Kasak kusuk daun karena angin
Hawa sejuk lanjut merasuk
Terkapar diantara kilau bulan bintang
Tertusuk nyeri embun yang tak kunjung redup

Selepas Salam

Di selapas salam
Aku tak bisa memelukmu
Tak ada cucuran kehinaan
Doa-doa dihamburkan hampa
Takbir pun terhenti
Pengagungan mengkhusyuk jabatan
Ciuman-ciuman tipuan diabadikan
Aroma parfum senandungkan pujian
Di seusai salam
Mata tak lagi menangkap rinai sesal
Kekosongan mengalirkan jumawa
Aku merindumu di desah hujan

Demikian beberapa contoh puisi pendek semoga bisa membantu Anda untuk mengerjakan tugas Bahasa Indonesia yang diberikan oleh guru di sekolah. Anda juga bisa mengirim karya sastra seperti puisi, pantun, kata-kata mutiara maupun cerpen kepada kami. Jika karya Anda memenuhi syarat tentu kami akan mempublikasikannya. Semoga bermanfaat!.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *