Adab Tidur Seorang Muslim (Bagian 1)

Posted on

Nasihat Islam – Manusia adalah makhluk Allah yang sangat lemah. Salah satu kelemahan yang dimiliki manusia adalah terbatasnya kemampuan manusia. Dalam waktu sehari dua puluh empat jam manusia tidak mampu terus-menerus dalam keadaan sadar dan terjaga. Manusia membutuhkan tidur sekitar tiga sampai lima jam dalam sehari. Tanpa tidur maka manusia akan lelah dan tidak bisa mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Itulah mengapa Allah menciptakan malam. Di malam harilah manusia tidur dan beristirahat dari kegiatan kesehariannya.

Tentunya tidur yang baik adalah tidur yang dicontohkan oleh teladan kita Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Berikut ini akan kami paparkan bagaimana cara beliau tidur sehingga bisa kita jadikan teladan dalam tidur kita di malam hari.

Pada artikel bagian pertama ini akan kami bahas beberapa adab yang berhubungan dengan bantal dan tempat tidur.

Mengibaskan Tempat Tidur

Tempat tidur adalah alas yang digunakan untuk tidur seseorang. Apabila hendak beranjak tidur, kita sebagai seorang muslim dianjurkan untuk mengibas-ngibas tempat tidur terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan agar alas yang digunakan untuk tidur tidak terdapat gangguan yang mengganggu tidur. Anjuran ini juga menjadikan kita terbiasa menjaga kebersihan. Terlebih lagi kita tidak sadar apa yang akan masuk kedalam tubuh kita saat dalam keadaan tidur. Sehingga dengan alas tidur yang bersih maka dapat mencegah kotoran dan penyakit yang masuk kedalam tubuh kita saat tidur.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَنْفُضْ فِرَاشَهُ بِدَاخِلَةِ إِزَارِهِ، فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِي مَا خَلَفَهُ عَلَيْهِ، ثُمَّ يَقُولُ

Dari Abu Hurairah berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Ketika salah satu kalian hendak beristirahat pada tempat tidurnya, hendaklah ia mengibaskan tempat tidurnya dengan kain sarungnya, sesungguhnya ia tidak tau apa yang ada di balik kasurnya. Lalu berdoa :

بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ

Dengan nama-Mu wahai Rabb, aku baringkan badanku, dan dengan-Mu aku mengangkatnya, jika Engkau menahan diriku maka rahmatilah, dan jika Engkau melepaskannya maka jagalah ia sebagaimana Engkau menjaga pada hamba-hamba-Mu yang shalih.”

(HR. Bukhari : 6320)

Baca juga  Adab Berdoa Menurut Quran dan Sunnah

Jumlah Tempat Tidur yang Dianjurkan

Sebagaimana yang kita ketahui, Islam adalah agama yang mengajarkan kita untuk tidak berlebih-lebihan. Termasuk salah satunya ialah dalam hal memiliki tempat tidur. Tempat tidur yang dianjurkan dalam Islam adalah tempat tidur yang cukup sesuai dengan kebutuhan. Baik itu ukurannya maupun jumlahnya.

قَالَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فِرَاشٌ لِلرَّجُلِ، وَفِرَاشٌ لِامْرَأَتِهِ، وَالثَّالِثُ لِلضَّيْفِ، وَالرَّابِعُ لِلشَّيْطَانِ

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Satu alas tidur bagi suami, satu alas tidur bagi istri, dan yang ketiga untuk tamu, dan yang ke-empat untuk setan.” (HR. Muslim : 2084)

Kesederhanaan Tempat Tidur

Sederhana bukan berarti menjadikan diri menjadi hina. Akan tetapi, menggunakan alat yang cukup sesuai yang dibutuhkannya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah teladan yang paling sempurna. Beliau tidur dengan beralas tempat tidur yang terbuat dari kulit. Bukan berarti beliau adalah orang miskin, akan tetapi beliau menggunakan tempat tidur tersebut sesuai fungsi, dan kebutuhannya.

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: إِنَّمَا كَانَ فِرَاشُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي يَنَامُ عَلَيْهِ أَدَمًا حَشْوُهُ لِيفٌ

Dari Aisyah ia berkata : “Sesungguhnya tempat tidur Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang digunakan untuk tidur itu terbuat dari kulit yang di dalamnya berisi sabut pohon kurma.” (HR. Muslim : 2082)

Tempat Tidur yang Dilarang

Agama Islam adalah agama yang baik. Maka segala sesuatu yang dikenakan hendaknya berasal dari sesuatu yang baik pula. Maka, tempat tidurpun hendaknya berasal dari bahan yang baik.

عَنْ أَبِي الْمَلِيحِ بْنِ أُسَامَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ جُلُودِ السِّبَاعِ

Dari Abi al Malih bin Usamah, dari bapaknya, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang (menggunakan bahan) yang terbuat dari kulit binatang buas (HR. Abu Dawud : 4132)

Larangan Menolak Bantal

Sesuai dengan fitrahnya, manusia akan lebih mudah tertidur dengan nyaman apabila alat yang digunakan untuk tidur juga nyaman. Bantal adalah alat yang digunakan sebagai alas kepala ketika tidur. Dengan bantal ini maka seseorang menjadi nyaman dan pulas ketika tidur sehingga bisa terbangun dengan keadaan segar dan tidak sakit di kepalanya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pun melarang apabila seseorang diberikan bantal kemudian menolaknya.

Baca juga  Akhlak dalam Islam Melalui Tuntunan Rasulullah

عَنْ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ثَلَاثٌ لَا تُرَدُّ: الوَسَائِدُ، وَالدُّهْنُ، وَاللَّبَنُ لدُّهْنُ: يَعْنِي بِهِ الطِّيبَ.

Dari Ibnu Umar ia berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tiga hal yang tidak boleh ditolak : bantal, minyak dan susu, adapun minyak yaitu yang ada wanginya.” (HR. Tirmidzi 2790)

Ringkasan

  • Hendaknya mengibaskan alas tidur sebelum menggunakannya.
  • Tempat tidur yang dimiliki supaya sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan.
  • Dianjurkan alas tidur dengan alas yang sederhana dan sesuai dengan kebutuhan, fungsi serta tujuan dari tidur itu sendiri.
  • Larangan tidur dengan alas yang terbuat dari kulit hewan buas.
  • Bahan alas tidur hendaknya berasal dari bahan yang baik.
  • Larangan menolak pemberian bantal.

Penulis : Adam Rizkala

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *